Saya sudah lama membaca Buku yang berjudul "GURU GOKIL MURID UNYU", tapi sayangnya baru sebagian yang saya baca. Karena saya merasa ini penting maka saya menulisnya mengenai salah satu halaman yang saya anggap menarik. Semoga bermanfaat ya ^_^
"Keberhasilan itu bukan kebetulan. Sukses berarti kerjasama, ketekunan, pengobanan, giat belajar, serta rajin sekolah. Dan, lebih dari pada itu semua, MENCINTAI APA YANG KAMU KERJAKAN."
Kisah ini nyata menurut buku yang saya baca ini, diceritakan sepasang suami istri yang dalam pendidikan mereka bisa dikatan kurang berhasil tapi dalam mendidik 5 anak laki-laki dan 1 perempuanya berhasil. Supriadi, bapak enam anak yang berprofesi sebagai tukang kebun Sekolah Dasar IL Jardinero dan mencari tambahan penghasilan dengan menjajakan es keliling sedangkan Istinya Mujinem berjualan kelapa dipasar. Supadi adalah seorang pekerja keras yang tekun tidak asal-asalan dan berkarakter juga amat bertanggung jawab terhadap keluarga. Bekerja dilingkuangan sekolah membuatnya berketetapan hati bahwa pendidikan merupakan satu-satunya tangga mobilitas guna memperbaiki status sosial anak-anaknya.
Tidak ada jalan mudah dan lurus bagi Supardi. hidupnya penuh onak duri. dia mengidap sesak napas sejak anak keduanya kuliah di Institut Pertaniaan Bogor (IPB). Supardi tidak gampang meliuk didera kesulitan. Ia tidak mengenal istilah mentok. selera humornya tinggi. Itu sebabnya, anak-anaknya tidak terlalu nelangsa dibesarkan dalam keluarga bersahaja. Ia juga sangat memperhatikan nutrisi buat anak-anak. Supardi bukanlah orang tua yang pelit, ia hanya bersikap hemat. Hadiah, berupa nasi gudeg atau makan siang dirumah makan, hanya diberikan bila anak-anak naik kelas dengan nilai rapor sungguh bagus. Ia selalu menunda memberi "kesenagan" sampai anak-anaknya benar-benar mampu menunjukan prestasi.
Ia mendidik anak-anak dengan sangat keras. Gebukan rotan dan diikat dengan ban dalam sepeda dalam posisi saling memunggungi diatas kursi adalah sanksi wajib bila anak-anak keterlaluan berbuat salah. Ia sempat melarang anak lelaki keempatnya ketika ingin menjadi kacung pemungut bola tenis. Supardi ingin anaknya bermartabat walau kekurangan. Sifatnya ngotot, tidak gampang menyerah, dan tidak cepat kehilangan muka. Supardi tekun dalam kesusahan, tabah dalam pergulatan. Anak-anak bisa keluar dari kubangan krisis identitas keluarga miskin berkat keteladanan ini.
"Seberat apapun situasi yang Anda hadapi, bayangkan akhir terbaik dan rasakanlah! Dengan melakukan itu Anda akan mengubah keadaan dan situasi menjadi yang Anda inginkan." by : Alegori rhonda Byrne. Inilah gambaran ketegaran Pak Supardi
Keluarga supardi pernah berniat memberikan penghargaan pada rentenir yang dulu sering mlecit(nguber-nguber) pelunasan hutang. Rentenir rupanya berjasa besar mengatasi kesulitan ekonomi keluarga kaum miskin. Heru Nugroho, sosiolog UGM, dalam disertasinya bercerita bahwa rentenir bukan lintah darat, melainkan penyelamat ekonomi kaum marjinal dipedesaan.
Supardi seorang ayanh yang periang, Mbok Mujinem seorang ibu yang tabah dan pendiam. Bapak banyak bicara, ibu tenang. Perpaduan yang klop mengelola keluarga brayutan. Sebagai pedagang kelapa, Mbok mujinem memang buta huruf, tapi tidak buta uang. Ia libur jualan hanya natal dan Lebaran. Bersahaja tidak banyak keinginan, dan nasihatnya tidak muluk-muluk. Hidup dijalaninya dengan mengurangi makan dan tidur. makan dikurangi agar bisa berhemat. Tidur dikurangi agar bisa menambah jam kerja. Bermodal arit dan kelapa, ia bahu membahu dengan suami membangun rumah dan mengentaskan anak-anak.
Anak lelaki pertama, setelah adik-adiknya mentas, memutuskan keluar PNS dan menjadi pastor. anak kedua. insinyur IPB, berpangkat manajer di pabrik jamur. Anak lelaki ketiga menjadi PNS guru SMP,. anak keempat sukses menjadi insinyur kimia dari UGM dan bekerja diperusahaan tambang. Anak kelima insinyur teknologi pangan dari UGM yang memilih alih profesi sebagai jurnalis surat kabar terkemuka. si bungsu, anak perempuan semata wayang, PNS guru SMA.
Inilah sumbangan kekuatan, kebajikan, kemakmuran, keberanian, cinta dan pengorbanan Pak Supardi dan Mbok Mujinem bagi pendidikan inspiratif berkarakter.
Mengutip tausiah Solahudin al Ayubi,
Aku memohon KEKUATAN.....
Tuhan memberiku Kesulitan-kesulitan yang menempaku hingga jadi KUAT
Aku memohon KEBIJAKSANAAN...
Tuhan memberiku Masalah yang Mengasah kecakapanku Mengurai Persoalan .
Aku memohon KEMAKMURAN...
Tuhan memberiku modal tubuh dan otak untuk Bekerja
Aku memohon KEBERANIAN...
Tuhan memberiku berbagai bahaya Untuk aku atasi
Aku memohon CINTA ....
Tuhan memberiku Orang-orang yang bermasalah Untuk aku tolong
Aku mohon BERKAH....
Tuhan memberiku berbagai kesempatan
Aku TIDAK memperoleh apapun yang aku Inginkan, tetapi MENDAPATKAN segala yang Aku BUTUHKAN........
Murid zaman sekarang butuh keteladanan. murid sering kali enggan mempelajari pengetahuan ABSTRAK teoritis, karena guru tidak bisa menunjukan manfaat materi yang diajarkannya. Guru yang rajin membaca pasti bisa menulis. Guru yang bisa menulis pasti GAYA MENGAJARNYA atrktif dan bertenaga. Guru seperti ini mendidik muridnya menjadi UNYU. Murid tahan uji dan bermental pemenang. Seperti seorang tukang kebun yang berjaya membesarkan keenam anaknya menjadi manusia sukses dan mandiri, berjiwa pemenang, bukan pecundang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar