DISCOVERY
LEARNING
DR. J. Richard Suchman (dalam
Widdiharto: 2004) mencoba mengalihkan kegiatan belajar-mengajar dari situasi
yang didominasi guru ke situasi yang melibatkan siswa dalam proses mental
melalui tukar pendapat yang berwujud diskusi, seminar, dan sebagainya. Salah
satu bentuknya disebut Guided Discovery Lesson (pelajaran dengan
penemuan terpimpin)
Discovery (penemuan terbimbing)
sering dipertukarkan pemakainnya dengan inquiry (penyelidikan). Sund
berpendapat bahwa discovery (penemuan terbimbing) adalah proses mental dimana
siswa mengasimilasikan suatu konsep atau suatu prinsip. Proses mental,
misalnya: mengamati, menjelaskan, mengelompokkan, membuat kesimpulan dan
sebagainya. Sedangkan konsep misalnya: lingkaran, segitiga, x < y, dan
sebagainya. Prinsip misalnya: “ kuadrat sisi miring pada segitiga siku-siku
sama dengan jumlah kuadrat sisi siku-sikunya”
Selanjutnya Sund mengatakan bahwa
penggunaan discovery dalam batas-batas tertentu adalah baik untuk kelas-kelas
rendah, sedangkan inquiry baik untuk siswa-siswa di kelas yang lebih tinggi.
Sebagai model pembelajaran dari
sekian banyak model pembelajaran yang ada, penemuan terbimbing menempatkan guru
sebagai fasilitator, guru membimbing siswa dimana ia diperlukan. Dalam model
ini siswa didorong untuk berfikir sendiri, sehingga dapat “menemukan” prinsip
umum berdasarkan bahan atau data yang telah disediakan oleh guru. Sampai
seberapa jauh siswa dibimbing, tergantung pada kemampuannya dan materi yang
sedang dipelajari.
Dengan metode ini, siswa dihadapkan
kepada situasi dimana ia bebas menyelidiki dan menarik kesimpulan. Terkaan,
intuisi dan mencoba-coba (trial and error) hendaknya dianjurkan. Guru
bertindak sebagai penunjuk jalan, ia membantu siswa agar mempergunakan ide,
konsep, dan keterampilan yang sudah mereka pelajari sebelumnya untuk
mendapatkan pengetahuan yang baru. Pengajuan pertanyaan yang tepat oleh guru
akan merangsang kreativitas siswa dan membantu mereka dalam “menemukan”
pengetahuan baru tersebut.
Model ini membutuhkan waktu yang
relatif banyak dalam pelaksanaannya, akan tetapi hasil belajar yang dicapai
sebanding dengan waktu yang digunakan. Pengetahuan yang baru akan melekat lebih
lama apabila siswa dilibatkan secara langsung dalam proses pemahaman dan
‘mengkonstruksi’ sendiri konsep atau pengetahuan tersebut. Model ini bisa
dilakukan baik secara perorangan maupun kelompok.
Agar pelaksanaan penemuan terbimbing
berjalan dengan efektif, beberapa langkah yang mesti ditempuh oleh guru
matematika adalah sebagai berikut:
1. Merumuskan masalah yang akan
diberikan kepada siswa dengan data secukupnya, yang dinyatakan dengan
pernyataan atau pertanyaan. Perumusan harus jelas, hindari pernyataan yang
menimbulkan salah tafsir sehingga arah yang ditempuh siswa tidak salah. Konsep
atau prinsip yang harus ditemukan siswa melalui kegiatan tersebut perlu ditulis
dengan jelas.
2. Diskusi sebagai pengarahan sebelum
siswa melakukan kegiatan. Alat/bahan perlu disediakan sesuai dengan kebutuhan
siswa dalam melaksanakan kegiatan.
3. Dari data yang diberikan guru, siswa
menyusun, memproses, mengorganisir, dan menganalisis data tersebut. Dalam hal
ini bimbingan guru dapat diberikan sejauh yang diperlukan saja. Bimbingan ini
sebaiknya mengarahkan siswa untuk melangkah ke arah yang hendak dituju, melalui
pertanyaan-pertanyaan, atau LKS.
4. Kegiatan metode penemuan oleh siswa
berupa penyelidikan/percobaan untuk menemukan konsep-konsep atau
prinsip-prinsip yang telah ditetapkan.
5. Siswa menyusun konjektur (prakiraan)
dari hasil analisis yang dilakukannya.
6. Bila dipandang perlu, konjektur yang
telah dibuat oleh siswa tersebut di atas diperiksa oleh guru. Hal ini penting
dilakukan untuk meyakinkan kebenaran prakiraan siswa, sehingga akan menuju arah
yang hendak dicapai.
7. Proses berpikir kritis perlu
dijelaskan untuk menunjukkan adanya mental operasional siswa, yang diharapkan
dalam kegiatan. Apabila telah diperoleh kepastian tentang kebenaran konjektur
tersebut, maka verbalisasi konjektur sebaiknya diserahkan juga kepada siswa
untuk menyusunnya. Disamping itu perlu diiingat pula bahwa induksi tidak menjamin
100 % kebenaran konjektur.
8. Setelah siswa menemukan apa yang
dicari, hendaknya guru menyediakan soal latihan atau soal tambahan untuk
memeriksa apakah hasil penemuan itu benar.
9. Perlu dikembangkan
pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka, yang mengarah pada kegiatan yang
dilakukan siswa.
10. Ada catatan guru yang meliputi
penjelasan tentang hal-hal yang sulit dan factor-faktor yang dapat mempengaruhi
hasil terutama kalau penyelidikan mengalami kegagalan atau tak berjalan
sebagaimana mestinya.
Model Penemuan Terbimbing memiliki
kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari Model Penemuan terbimbing adalah
sebagai berikut:
1.
Siswa
dapat berpartisipasi aktif dalam pembelajaran yang disajikan.
2.
Menumbuhkan
sekaligus menamkan sikap inquiry (mencari-temukan).
3.
Mendukung
kemampuan problem solving siswa
4.
Memberikan
wahana interaksi antar siswa, maupun siswa dengan guru, dengan demikian siswa
juga terlatih untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
5.
Materi
yang disajikan dapat mencapai tingkat kemampuan yang lebih tinggi dan lebih
lama membekas karena siswa dilibatkan dalam proses menemukannya (Marzano, dalam
Widdiharto: 2004).
Sementara
itu kekurangannya (Widdiharto: 2004) adalah sebagai berikut:
- Untuk materi tertentu, waktu yang tersita lebih lama.
- Tidak semua siswa dapat mengikuti pelajaran dengan cara ini. Dilapangan beberapa siswa masih terbiasa dan mudah mengerti dengan model ceramah.
- Tidak semua topik cocok disampaikan dengan model ini. Umumnya topik-topik yang berhubungan dengan prinsip dapat dikembangkan dengan Model Penemuan Terbimbing.
KESIMPULAN
Secara singkat dapat disimpulkan bahwa tujuan utama
pendekatan inquiry dan discovery adalah untuk melatih kemampuan
siswa dalam meneliti, menjelaskan fenomena, dan memecahkan masalah secara
ilmiah. Karena pada dasarnya secara intuitif setiap individu cenderung
melakukan kegiatan ilmiah (mencari tahu/memecahkan masalah). Kemampuan tersebut
dapat dilatih sehingga setiap individu kelak dapat melakukan kegiatan ilmiahnya
secara sadar (tidak intuitif lagi) dan dengan prosedur yang benar.
Melaui pendekatan ini, guru dapat meyakinkan siswa bahwa
ilmu bersifat tentatif dan dinamis, karena ilmu berkembang terus menerus.
Sesuatu yang saat ini diyakini benar, kelak suatu saat belum tentu benar atau
berubah. Disamping itu, siswa dilatih untuk dapat menghargai
alternatif-alternatif lain yang mungkin berbeda dengan yang telah ada
sebelumnya dan telah diyakini sebagai suatu kebenaran.
PROBLEM
SOLVING
Menurut Hunsaker
Pemecahan masalah ( problem solving ) didefinisikan sebagai suatu
proses penghilangan perbedaan atau ketidak sesuaian yang terjadi antara hasil
yang diperoleh dan hasil yang diinginkan.
Sementara menurut
Mu’Qodin mengatakan bahwa problem solving adalah merupakan suatu
keterampilan yang meliputi kemampuan untuk mencari informasi, menganalisa
situasi, mengidentifikasi masalah dengan tujuan untuk menghasilkan alternatif
tindakan, kemudian mempertimbangkan alternatif tersebut sehubungan dengan hasil
yang dicapai dan pada akhirnya melaksanakan rencana dengan melakukan suatu
tindakan yang tepat.
Berdasarkan dari
beberapa definisi problem solving yang dikemukakan diatas, maka dapat
disimpulkan bahwa problem solving merupakan suatu keterampilan yang
meliputi kemampuan untuk mencari informasi, menganalisa situasi dan
mengidentifikasi masalah dengan tujuan untuk menghasilkan alternatif sehingga
dapat mengambil suatu tindakan keputusan untuk mencapai sasaran. Terkait dengan
pengertian problem solving tadi bila dikaitkan dengan pembelajaran maka mempunyai
pengertian sebagai proses pendekatan pembelajaran yang menuntut siswa untuk
menyelesaikan masalah, dimana problem yang harus diselesaikan tersebut
bisa dibuat-buat sendiri oleh pendidik dan ada kalanya fakta nyata yang ada
dilingkungan kemudian dipecahkan dalam pembelajaran dikelas, Dengan berbagai
cara dan teknik.
Perangkat Pembelajaran Problem Solving
Untuk menerapkan
pembelajaran problem solving diperlukan beberapa perangkat terutama
A.
Software,
Yang
mengaitkan metode, Setiap pembelajaan seorang guru tidak dilepaskan dari
peranan metode, akan tetapi tak semua metode yang guru pakai dapat menghasilkan
output yang baik, Dan guru mengajar dengan metode dapat menemukan dan
membimbing anak ke arah pemecahan masalah tapi tak semua metode
bisa digunakan sebagi proses problem solving paling tidak metode
tersebut mempunyai nilai-nilai Sebagai berikut:
- Keaktifan terhadap peserta didik
- Kreativitas
B.
Hardware
Untuk
perangkat yang kedua ialah hardware yang terkait dengan teknik
pembelajaran, sebelum kita memahami hardware pembelajaran kita harus paham
dengan pengertian teknik pembelajaran, teknik pembelajaran ialah jalan, alat,
atau media yang diguanakan oleh guru dalam rangka mendidik muridnya guna mencapai
tujuan pembelajaran ( Garlach dan Ely, 1980 ).
Aplikasi
atau penerapan teknologi pendidikan dalam upaya pemecahan masalah pendidikan
dan pembelajaran mempersyaratkan minimal tersedianya hal-hal berikut:
a) Dukungan
teknologi atau infrastruktur,
b) Penguasaan
pengetahuan dan keterampilan dalam mengembangkan content,
c) kesiapan
Siswa pengguna atau user. Sementara itu pemecahan masalah belajar secara
empirik dapat dilakukan dengan berbagai cara, strategi, dan prosedur (Purwanto,
2005:1718).
Aplikasi
atau penerapan teknologi pendidikan dalam upaya pemecahan masalah pendidikan
dan pembelajaran dengan cara:
1) Memadukan
berbagai macam pendekatan dari bidang ekonomi, manajemen, psikologi, rekayasa,
dan lain-lain secara bersistem;
2) Memecahkan
masalah belajar pada manusia secara menyeluruh dan serempak, dengan
memperhatikan dan mengkaji semua kondisi dan saling kaitan di antaranya;
3) Menggunakan
teknologi sebagai proses dan produk untuk membantu memecahkan masalah belajar;
4) Timbulnya
daya lipat atau efek sinergi, di mana penggabungan pendekatan dan atau
unsur-unsur mempunyai nilai lebih dari sekedar penjumlahan. Demikian pula
pemecahan secara menyeluruh dan serempak akan mempunyai nilai lebih daripada
memecahkan masalah secara terpisah (Miarso, 2007:78).
Bentuk
Problem Solving
a).Ada
beberapa bentuk dalam problem solving menurut Chang, D’Zurilla dan Sanna
(2004), yaitu Rational Problem Solving
Sebuah bentuk pembelajaran problem solving yang konstruktif
yang didefinisikan seperti rasional, berunding dan aplikasi yang sistematik
dalam kemampuan menyelesaikan masalah. Model ini terdiri dari 4 tahapan, yaitu
:
1) Identifikasi
Masalah
Problem
solver mencoba mengelompokkan dan mengerti masalah yang dihadapi dengan
mengumpulkan banyak spesifikasi dan fakta konkrit tentang kemungkinan masalah,
mengidentifikasi permintaan, rintangan dan tujuan yang realistik dalam
menyelesaikan masalah.
2) Mencari
Solusi Alternatif
Fokus
pada tujuan untuk menyelesaikan masalah tersebut dan mencoba untuk
mengidentifikasi banyak solusi yang memungkinkan termasuk yang konvensional
3) Mengambil
Keputusan
Problem
solving mengantisipasi terhadap keputusannya dalam solusi yang berbeda,
mempertimbangkan, membandingkan dan kemudian memilih yang terbaik atau solusi
yang efektif yang paling berpotensial.
4) Mengimplementasi
Solusi dan Pembuktian Seseorang harus berhati-hati dalam menerima dan
mengevaluasi solusi yang menjadi pilihan setelah mencoba untuk melaksanakan
solusi tersebut kedalam situasi masalah dalam kehidupan nyata
Kelebihan
Pembelajaran Problem Solving
1. Melatih
siswa untuk mendesain suatu penemuan.
2. Berpikir dan bertindak kreatif.
3. Memecahkan
masalah yang dihadapi secara realistis
4. Mengidentifikasi
dan melakukan penyelidikan.
5. Menafsirkan
dan mengevaluasi hasil pengamatan.
6. Merangsang
perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi
dengan tepat.
7. Dapat
membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan, khususnya dunia
kerja.
Kelemahan
pembelajaran problem solving
1. Beberapa
pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan Pembelajaran ini. Misal
terbatasnya alat-alat laboratorium menyulitkan siswa untuk melihat dan
mengamati serta akhirnya dapat menyimpulkan kejadian atau konsep tersebut.
2. Memerlukan
alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan metode pembelajaran yang
lain
3. Pengembangan
program membutuhkan biaya tinggi dan waktu yang lama.
4. Pengadaan
dan pemeliharaan alat mahal .
Kesimpulan
1. problem
solving merupakan suatu keterampilan yang meliputi kemampuan untuk mencari
informasi, menganalisa situasi dan mengidentifikasi masalah dengan tujuan untuk
menghasilkan alternatif sehingga dapat mengambil suatu tindakan keputusan untuk
mencapai sasaran. Terkait dengan pengertian problem solving tadi bila dikaitkan
dengan pembelajaran maka mempunyai pengertian sebagai proses pendekatan
pembelajaran yang menuntut siswa untuk menyelesaikan masalah, dimana
problem yang harus diselesaikan tersebut bisa dibuat-buat sendiri oleh pendidik
dan ada kalanya fakta nyata yang ada dilingkungan kemudian dipecahkan dalam
pembelajaran dikelas, Dengan berbagai cara dan teknik.
2. Perangkat
dalam pembelajaran problem solving ialah berupa software yang berupa metode
tapi tak semua metode bisa dipakai dalam pembelajaran problem solving paling
tidak metode tersebut mempunyai nilai-nilai keaktifan dan kretivitas bagi
siswa. dan yang perangkat problem solving ialah hardware yang berupa tenik
pembelajaran.
3. Bentuk
Problem Solving ialah Rational Problem Solving dengan cara Identifikasi
Masalah, Mencari Solusi Alternatif, Mengambil Keputusan, Mengimplementasi
Solusi dan Pembuktian.
4. Pembelajaran
problem solving ada kelebihannya dan kekurangannya diantaranya.
Kelebihan
problem solving
- Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan.
- Berpikir dan bertindak kreatif.
Kekurangannya
- Pengembangan program membutuhkan biaya tinggi dan waktu yang lama.
- Pengadaan dan pemeliharaan alat mahal .
5. Pendekatan
Pemecahan masalah ada lima langkah yaitu, Problem Identification, Syinthesis,
Analysis, Application, Comprehension
PBL
(PROBLEM BASED LEARNING)
Dalam ruang lingkup pembelajaran berbasis masalah, siswa
berperan sebagai seorang professional dalam menghadapi permasalahan yang
muncul, meskipun dengan sudut pandang yang tidak jelas dan informasi yang
minimal, siswa tetap dituntut untuk menentukan solusi terbaik yang mungkin ada.
Pembelajaran berbasis masalah membuat perubahan dalam proses pembelajaran
khususnya dalam segi peranan guru. Guru tidak hanya berdiri di depan kelas dan
berperan sebagai pemandu siswa dalam menyelesaikan permasalahan dengan
memberikan langkah-langkah penyelesaian yang sudah jadi melainkan guru
berkeliling kelas memfasilitasi diskusi, memberikan pertanyaan, dan membantu
siswa untuk menjadi lebih sadar akan proses pembelajaran.
Menurut Departemen Pendidikan Nasional (2003), ciri utama
pembelajaran berbasis masalah meliputi mengorientasikan siswa kepada masalah
atau pertanyaan yang autentik. multidisiplin, menuntut kerjasama dalam
penyelidikan, dan menghasilkan karya. Dalam pembelajaran berbasis masalah
situasi atau masalah menjadi titik tolak pembelajaran untuk memahami konsep,
prinsip dan mengembangkan keterampilan memecahkan masalah.
Pembelajaran Berbasis Masalah atau sering disebut dengan
Problem Based Learning ini memiliki beberapa arti, diantaranya :
- Menurut Boud dan Felleti, (1997), Fogarty (1997) menyatakan bahwa model pembelajaran berbasis masalah adalah suatu pendekatan pembelajaran dengan membuat konfrontasi kepada pebelajar (siswa/mahasiswa) dengan masalah-masalah praktis, berbentuk ill-structured, atau open ended melalui stimulus dalam belajar.
- Menurut Arends (Nurhayati Abbas, 2000: 12) menyatakan bahwa model pembelajaran berbasis masalah adalah model pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran siswa pada masalah autentik, sehingga siswa dapat menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuhkembangkan keterampilan yang lebih tinggi dan inquiri, memandirikan siswa, dan meningkatkan kepercayaan diri sendiri.
- Menurut Ward, 2002: Stepien, dkk., 1993 menyatakan bahwa model berbasis masalah adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan suatu masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan untuk memecahkan masalah.
- Ratnaningsih, 2003: menyatakan bahwa pembelajaran berbasis masalah adalah suatu pembelajaran yang menuntut aktivitas mental siswa untuk memahami suatu konsep pembelajaran melalui situasi dan masalah yang disajikan pada awal pembelajaran.
UNSUR-UNSUR
PBL
Berbagai pengembang pembelajaran berbasis masalah telah
menunjukkan ciri-ciri pengajaran berbasis masalah sebagai berikut.
1.
Pengajuan masalah atau pertanyaan
2.
Penyelidikan autentik
3.
Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya
4.
Kerjasama.
PROSEDUR
PBL
Arends (2004) merinci langkah-langkah pelaksanaan PBL dalam
pengajaran. Arends mengemukakan ada 5 fase (tahap) yang perlu dilakukan untuk
mengimplementasikan PBL. Fase-fase tersebut merujuk pada tahap-tahapan praktis
yang dilakukan dalam kegiatan pembelajaran dengan PBL sebagaimana disajikan
pada :
Fase
Aktivitas guru
Fase 1: Mengorientasikan siswa/ mahasiswa
pada masalah
Fase 2: Mengorganisasikan siswa/ mahasiswa
untuk belajar
Fase 3: Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok
Fase 4: Mengembangkan dan menyajikan artifak (hasil
karya) dan mempamerkannya
Fase 5: Analisis dan evaluasi proses pemecahan
masalah
Tabel
Langkah-langkah (Sintaksis) Pembelajaran Berdasarkan Masalah
|
No
|
Tahap
|
Tingkah
Laku Guru
|
|
1
|
Tahap
1 :
Orientasi
siswapada masalah
|
a. menjelaskan
tujuan pembelajaran
b. menjelaskan
alat dan bahan yang dibutuhkan
c. memotivasi
siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah.
|
|
2
|
Tahap
2 :
Mengorganisasikansiswa
untuk belajar
|
membantu
siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan
masalah tersebut
|
|
3
|
Tahap
3 :
Membimbingpenyelidikan
individual atau kelompok
|
a. mengumpulkan
informasi yang sesuai dengan studi pustaka
b. melaksanakan
eksperimen atau demontrasi untuk mendapatkan penjelasan
c. pemecahan
masalah
|
|
4
|
Tahap
4 :
Mengembangkandan
penyajian hasil karya/tugas
|
a. membantu
siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya/tugas
b. membantu
siswa untuk berbagi tugas dengan temannya
|
|
5
|
Tahap
5 :
Menganalisisdan
mengevaluasiproses pemecahan masalah
|
membantu
siswa untuk melakukan evaluasi terhadap tugas-tugas mereka dan proses yang
mereka gunakan
|
KESIMPULAN
PBL adalah suatu pendekatan yang menggunakan masalah dunia
nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir
kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan
yang esensial dari materi pelajaran. Pembelajaran berbasis masalah dirancang
untuk merangsang berpikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi pada
masalah.
Pembelajaran berbasis masalah dikembangkan terutama untuk
membantu kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual
dan belajar menjadi pembelajar yang otonom. Keuntungan PBL adalah mendorong
kerja sama dalam menyelesaikan tugas. Pembelajaran berbasis masalah melibatkan
siswa dalam penyelidikan pilihannya sendiri, yang memungkinkan siswa
menginterpretasikan dunia nyata dan membangun pemahaman tentang fenomena
tersebut.
DAFTAR
PUSTAKA
TUGAS
KELOMPOK
TIGA
PENDEKATAN
Disusun untuk memenhi salah satu tugas
Mata Kuliah Pembelajaran PKN SD
Dosen
Pembimbing : Drs.
H.Atim Suparman, M.Pd
Disusun Oleh :
Erlin Berlina 115060335
Ryandini Rahayu 105060054
Ramdan Nugraha 115060327
Teni Nur Apriyani 115060342
Program Studi Pendidikan Guru
Sekolah Dasar
Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan
Universitas Pasundan
Bandung
2014